logo rilis
Jabar Siap Sergap 7.000 Ton Gabah per Hari
Kontributor
Elvi R
14 Februari 2018, 17:24 WIB
Jabar Siap Sergap 7.000 Ton Gabah per Hari
Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat, Hendi Jatnika dalam Rapar Koordinasi (Rakor) Serap Gabah Petani (Sergap) yang diselenggarakan Kodam III/Siliwangi di Bandung, Rabu (14/2/2018). FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Bandung— Puncak panen padi di Provinsi Jawa Barat berlangsung mulai Februari hingga April 2018. Produksi gabah pada Februari 2018 mencapai 1,27 juta ton dari luas panen 230.835 hektar. Adapun target Sergap hariannya sebanyak 7.000 ton GKP dengan harga beli berkisar Rp 4.200 per kilogram di lapangan.

“Target ini pasti bisa dicapai karena rata-rata panen di Jawa Barat tiap harinya mencapai 200 ribu hektar. Apalagi dengan mekanisme Sergab yang baru ini, dimana mitra Bulog kini pihak TNI dnan BRI bukan lagi swasta. TNI turun beli langsung gabah ke petani dengan harga yang fleksibel,” demikian kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat, Hendi Jatnika dalam Rapar Koordinasi (Rakor) Serap Gabah Petani (Sergap) yang diselenggarakan Kodam III/Siliwangi di Bandung, Rabu (14/2/2018). 

Hadir pada Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Sumardjo Gatot Irianto, Wakil Aster Kasad, Brigjen TNI Dudung Abdurachman, Kasdam III/Siliwangi, Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring, Kepala Divisi Regional Bulog Jawa Barat Mamat, pihak BRI, para Dandim dan kepala dinas pertanian se-Jawa Barat.

Dirjen Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto menekankan, agar Sergap di Jawa Barat sesuai target. Caranya yakni pertama, dinas pertanian agar menginformasikan posisi combine harvester, dryer atau penggilingan kepada Dandim.

Kedua, Dandim harus memastikan data terkait peta daerah panen khususnya harga di bawah Rp4.200 per kilogram. Selanjutnya alat mesin pengering atau penggilingan dan combine harvester bantuan Kementan diorganisir menjadi brigade panen.

“Para Dandim pun harus mendata ketersediaan gudang gudang di semua kabupaten,” kata Gatot.

Ketiga lanjut Gatot, Kasubdivre Bulog setempat bisa mengeluarkan SPK kepada Dandim sebagai mitra Bulog untuk mengambil pinjaman ke BRI. Kasubdivre Jabar bisa melakukan pinjaman dengan pertimbangan berdasarkan data kebutuhan Sergap (peta potensi panen).

“Kemudian, gabah dikeringkan, digiling dan dijual ke Bulog dan Bulog membayar sesuai dengan kuantum dan jenis besarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Aster Kasad, Brigjen TNI Dudung Abdurachman meminta para Dandim untuk melaksanakan Sergap seoptimal mungkin. Kendati demikian, harus memperhatikan kualitas gabah, sehingga Bulog memperoleh beras yang bagus atau tahan lama disimpan.

“Bulog tidak bisa menerima beras begitu saja karena resikonya kualitas. Jadi kadar air harus diperhatikan. Ini sering terjadi pada mitra-mitra yang tidak perhatikan kadar air,” tegasnya.

Kasdam III/Siliwangi, Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring mengingatkan agar tengkulak tidak memberikan harga sembarangan. Karena, beras merupakan komoditas yang sangat strategis. 

“Kami menghimbau para tengkulak agar tidak bermain. Kami minta kepada para Dandim, kelola uang Sergap dengan sebenarnya. Kita sudah diberikan semuanya, Sergap harus optimal sehingga beras luar tidak ada ruang masuk. Ini harus kita sadari bersama,” tuturnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)