logo rilis
Islam yang Menyesatkan
Kontributor
RILIS.ID
13 Februari 2017, 21:59 WIB
Islam yang Menyesatkan

Oleh Yudhie Haryono

Kok bisa? Jangan marah dulu. Sebab marah itu tidak islami. Itu juga akan makin menegaskan betapa sulit menemukan islam subtantif. Sebab, kini kita bisa lihat betapa masif orang menyembah baju, teks dan batu akhir-akhir ini.

Baca Juga

Berbondong-bondong orang merasa lebih islami hanya karena jilbab dan baju koko plus celana cungkring. Berduyun-duyun orang merasa punya investasi surga hanya menghapal dan melombakan hafalan alquran. Bergerombol orang-orang merasa suci dan mabrur hanya dengan mencium batu hitam dan tamasya di dua kota.

Inilah "islam yang menyesatkan." Gagasan awal dan perealisasian yang begitu dahsyat, gigantik, berdentum dan spektakuler kini tinggal ampas dan debunya saja. Jika bangsa lain melihat bulan berpikir untuk membangun pemukiman di sana, islam hari ini melihat bulan hanya untuk kapan makan bersama. Jika bangsa lain membaca kitab suci untuk mempraktekkan subtansi isinya, ummat muslim menghapal dan membuat musabaqahnya saja.

Bagaimana membuktikannya? Mari kita lihat teksnya lalu konteksnya. Berikut beberapa kutipan: 1) Islam berarti “menyelamatkan martabat" (QS An Nisa/4:125). 2) Islam berarti “menyelamatkan diri" (QS Al Baqarah/2:131. Ali Imran/3:83). 3) Islam berarti “menyucikan diri" (QS As-Syu’ara/26:89). 4) Islam berarti “menyelamatkan dan menyejahterakan" (QS Al An’am/6:54). 5) Islam berarti “mendamaikan” (QS Muhammad/47:35).

Dari beberapa teks itu, kata “islam” berasal dari akar kata Arab, s-l-m (sin, lam, mim) yang berarti mendamaikan, menyucikan, menyelamatkan dan membariskan. Dalam pengertian religius subtantif, islam berarti “ketundukkan kepada kebenaran lewat jalan penyelamatan” (diri, kelompok, bangsa, harta, tahta dan cita-cita).

Karena itu, konteks islam adalah melawan kezaliman, penjajahan, kejahiliyahan dengan cara: 1) Aslama: menyerahkan diri pada hukum baru yang revolusioner agar; 2) Salima: selamat dan menyelamatkan sehingga; 3) Sallama: membangun peradaban baru yang; 4) Salam: aman, damai, sentosa, adil, sejahtera dan menzaman.

Singkatnya, saat itu islam adalah jalan baru. Alternatif dari jalan lama yang berputar-putar pada feodalisme (umur), fasisme (klan), oligarkisme (abu lahab), status quo (abu jahal). Jalan baru itu beride pada anti status lama dan berpraktek pada equalitas, progresifitas, gotong-royong, beyond sara (suku, ras, agama) dan adaptif-menzaman.

Sebab, jika Muhammad hanya dakwah baju, batu dan teks maka ia tak akan jadi musuh bersama konglomerasi ekonomi-politik saat itu. Muhammad dijadikan musuh bersama karena punya gagasan revolusi ekonomi-politik dan mematrialisasikannya dengan berbaris bersenjata dan dominatif.

Karena itu, sejarah besar Muhammad adalah sejarah merubah struktur lama yang oligarkis, kleptokratis, kolutifis, kartelis, eksploitatis dan predatoris menjadi struktur yang adil dan sesama bersama. Ia merubah kesukuan menjadi peradaban. Ia membariskan orang-orang miskin, kalah dan cacat menjadi tuan di atas tanah air mereka. Ia buat tanah suci (bagi para revolusioner-syuhada) dan tanah haram (bagi para begundal kolonial).

Jadi, islam Muhammad itu adalah revolusi terhadap kaidah "extra exlesiam nulla konglomerata." Yaitu merevolusi bekerjanya ekonomi-politik jahiliyah (tanpa sistem) yang menghasilkan: keterjajahan, kemiskinan, kebodohan, kesakitan, kesenjangan, ketakmandirian, ketergantungan, kebingungan, kegelapan bagi orang-orang biasa dari kalangan rakyat jelata.

Jika hari ini islam menyempit jadi ritual dan selebritas, itulah islam yang menyesatkan. Tinggal sampahnya. Ia akan dikenang saja seperti kita mengenang Majapahit dan Sriwijaya.

Penulis adalah pengasuh Nusantara Centre


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)