logo rilis
Insiden Anies, Krisis Tata Krama Elite
Kontributor

19 Februari 2018, 10:32 WIB
Insiden Anies, Krisis Tata Krama Elite
Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut mendampingi Jokowi Final Piala Presiden 2015.

RILIS.ID, Jakarta— Insiden podium untuk Anies menjadi blunder Istana. Elite Indonesia ini sudah gak punya tata krama lagi kayaknya. Orang sekelas Gubernur DKI Jakarta, malah tak ikut serta dalam penyerahan trofi juara tersebut kepada klub jawara, Persija Jakarta.

"Harusnya tata krama dan tata cara kompatibel dalam bernegara ditonjolkan oleh pemimpin negara, guna meredam prasangka timbul kemudian," jelas Mbak Wiwiek, sapaan akrab Peneliti LIPI, Siti Zuhro, kepada rilis.id, Senin (19/1/2018). 

Setelah pluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, Persija berhasil mengungguli Bali United dengan skor 3-0. Kini, giliran penyematan juara secara resmi oleh Presiden RI, Joko Widodo kepada ofisial tim dan para pemain klub pemenang.

Ikut mendampingi Jokowi antara lain, Menko Polhukam Wiranto, Setkab Pramono Anung, dan Menpora Imam Nahrowi. Sesaat menuruni tribune VIP,  tampak Gubernur Anies Baswedan mau ikut serta. Tapi, dicegah Paspampres.

Padahal, kalau menengok ke belakang, pada perhelatan Piala Presiden 2015, waktu itu pemenangnya adalah Persib Bandung. Nah, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut mendampingi Jokowi. 

Dengan mengenakan kostum klub Persija, Ahok turut menyerahkan medali kepada pemain Persib satu per satu dan ditemani Kang Emil.

Lantas, mengapa perlakuan terhadap Anies berbeda?

Mbak Wiwiek bilang, insiden ini sama saja tak menghargai kepala daerah DKI Jakarta sebagai tuan rumah, terlepas apa pun alasan penyelenggara.

"Ini menyangkut hubungan jenjang antara lembaga yang dapat berakibat negatif. Harusnya penyelenggara menghargai siapa tuan rumahnya," tandasnya.

"Pada umumnya pejabat negara atau gubernur mestinya mendampingi presiden," seloroh politisi Gerindra, M Syarif, beberapa waktu lalu.

Hal senada pun dilontarkan oleh Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Dalam cuitan twitter-nya, Fahri membandingan perlakuan Presiden Jokowi terhadap Ahok.

"Adegan ini kalau benar harus dijelaskan kepada publik oleh @KemensetnegRI. Kenapa gubernur DKI @aniesbaswedan Gak boleh ikut sementara pejabat Gak jelas pada ikut? Ahok aja diajak naik mobil RI1 padahal terdakwa... #NgawurKalian!" tulis Fahri dalam akun Twitter pribadinya.

Sementara itu, pihak Istana Negara mengakui Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) mencegah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk turun mendampingi Presiden. 

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menyampaikan, tindakan tersebut merupakan prosedur pengamanan, karena Paspampres berpegang pada daftar nama pendamping Presiden yang disiapkan panitia. 

Paspampres hanya mempersilakan nama-nama yang disebutkan oleh pembawa acara, untuk turut mendampingi Presiden Joko Widodo saat itu. 

"Tidak ada arahan apa pun dari Presiden untuk mencegah Anies," ungkap Bey Machmudin dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu (18/2/2018)

Mengingat acara tersebut bukan acara kenegaraan, panitia tidak mengikuti ketentuan protokoler kenegaraan mengenai tata cara pendampingan Presiden oleh Kepala Daerah.

Selama pertandingan, Presiden Jokowi dan Gubernur Anies sangat menikmati jalannya pertandingan final. Keduanya menonton dengan rileks, sangat informal, serta akrab. Presiden menyampaikan selamat dan menyalami Anies saat Persija mencetak gol.

"Karena bukan acara resmi, Presiden juga masih perlu menunggu selama 15 menit di lapangan hingga selesainya pemberian penghargaan lain sebelum menyerahkan Piala Presiden kepada Persija," jelasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)