logo rilis
Hari Pers, Ranah Minang dan Rosihan Anwar
Yayat R Cipasang
08 Februari 2018, 15:50 WIB
berita
Foto: Istimewa

PUNCAK Hari Pers Nasional (HPN) digelar di Kota Padang, Sumatra Barat, 9 Februari 2018. Hajatan insan pers di ranah Minang ini sangat tepat karena sejak zaman kolonial hingga kiwari, Sumbar terus melahirkan jurnalis andal dan disegani. Sebutlah Djamaludin Adinegoro, Ani Idrus, Muchtar Lubis, Petrus Kanisius Ojong, Rohana Kudus dan Rosihan Anwar hingga Karni Ilyas.

Untuk kali ini saya akan membahas Rosihan Anwar yang sampai akhir hayatnya masih terus menulis sebagai wartawan lepas. Malah dikenal sebagai penulis spesialis obituari tokoh-tokoh berpengaruh pelaku sejarah yang hidup sezaman tetapi berpulang lebih dulu.

Baca Juga

Ucapan Rosihan Anwar yang sampai saat ini saya ingat tentang keharusan wartawan untuk banyak membaca buku. Dalam salah satu bukunya kelahiran Solok, 10 Mei 1922 ini kira-kira berkata seperti ini, "Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Buku apa saja. Suatu saat pasti berguna. Paling tidak ingat warna kover bukunya."

Itulah yang membuat saya sampai sekarang terus membaca buku dari mulai buku proyek pemerintah yang memusingkan sampai buku sastra absurd yang sampai halaman terakhir tak ada satu pun yang bisa dimengerti. Nasihat sederhana Rosihan yang pernah sekolah drama di Universitas Yale Amerika Serikat (1950) dan kursus jurnalistik di School of Journalism Columbia University New York (1954) itu ternyata ampuh dan saya rasakan manfaatnya sampai sekarang.

Untuk ukuran sekarang sulit ditemukan wartawan multitalenta sekelas Rosihan yang terus menekuni jurnalistik sampai ajal menjemput. Kebanyakan sekarang, profesi wartawan hanya batu loncatan untuk meniti karier yang lebih menjanjikan secara status di materi, seperti menjadi pengusaha, politisi, dubes atau kepala daerah.

Kendati pernah terjun di beragam profesi, Rosihan tetap setia dengan profesi yang terus melambungkan namanya tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Rosihan sebagai jurnalis bersanding dengan Rosihan sebagai sineas dan sejajar dengan Rosihan sejarawan dan Rosihan sebagai kolumnis, juga penulis buku.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sejak zaman Jepang sebagai reporter Asia Raya pada 1943 kemudian pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Harian Pedoman (1948-1961). Pada era Presiden Soekarno koran ini dibredel. Koran ini hidup kembali pada masa Orde Baru dan Rosihan anwar pun bersama Jakob Oetama mendapat anugerah Bintang Mahaputra III. Namun, bulan madu pers pada era Orba termasuk dengan Pedoman berakhir setelah penguasa kembali membredelnya terkait peristiwa Malari pada 1974.

Bersama Usmar Ismail, Rosihan mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini) pada 1950. Salah satu produksinya yang terkenal Darah dan Doa dengan bintang utamanya Suzanna. Dalam film itu juga Rosihan bermain sebagai figuran. Belakangan, Rosihan yang juga dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1983-2011) lebih banyak menulis kritik film dan menjadi juri di berbagai festival.

Atas jasanya mendirikan PWI di Surakarta pada 1946, Rosihan bersama Herawati Diah dianugerahi Life Time Achievement atau Prestasi Sepanjang Hayat dari PWI Pusat.

Dan, kisah sang penulis obituari ini berakhir ketika dia tidak bisa menulis kisah hidupnya sendiri. Penulis empat seri buku "Petite Histoire Indonesia" ini meninggal dunia genap usia 89 tahun pada pada Kamis, 14 April 2011 pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medika Center (MMC) Jakarta.  Rosihan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan. 

Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)