logo rilis
Happy Bone Zulkarnain: Pengurus Baru Golkar Harus Penuhi PDLT
Kontributor
Taufik Saifuddin
09 Januari 2018, 17:48 WIB
Happy Bone Zulkarnain: Pengurus Baru Golkar Harus Penuhi PDLT
ILUSTRASI: Hafiz

SETELAH melalui badai politik, Partai Golkar baru saja mengukuhkan nakhoda barunya. Ya, Airlangga Hartarto didapuk menjadi ketua umum menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus KTP elektronik. Layaknya sebuah kapal, meski telah memiliki nakhoda namun awaknya tidak ada, tetap saja akan kelimpungan menggapai tujuan. 

Partai beringin kini tengah melakukan upaya untuk merumuskan kepengurusan baru. Ketua DPP Golkar Happy Bone Zulkarnain berpendapat, sebagai seseorang yang ikut menentukan pengurus baru, ia mensyaratkan calon armada anyar partai ini haruslah mereka yang memiliki prestasi, dedikasi, loyalias dan tidak tercela. Happy menyebutnya PDLT. 

Saat ini Happy memang menjadi playmaker Golkar setelah berhasil mengantarkan Airlangga ke singgasana. Lalu, kapan Golkar akan mengumumkan pengurus barunya? Bagaimana pula partai ini menyongsong tahun politik? 

Ulasan ini akan Anda dapatkan dari hasil wawancara wartawan rilis.id Taufiq Saifuddin bersama Happy Bone Zulkarnain di kawasan Kebayoran, Jakarta, Selasa (9/1/2018). Simak wawancara selengkapnya: 

Sebagai seorang yang paling menentukan dalam merumuskan struktur baru DPP Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartanto, sudah sejauh mana perkembangan struktur baru ini? 

Sekarang ini kita sedang mendesain strukturnya. Supaya kepengurusan ini nantinya sesuai dengan target dan filosofi dari Airlangga sendiri, yaitu menuju Golkar bersih dan bangkit. Menuju visi besar ini, kita ingin lihat apakah struktur yang sudah ada sekarang sudah sesuai apa tidak. 

Kepengurusan sekarang kan plenonya itu sudah sampai 350 orang. Nah kalau jumlahnya demikian, sementara AD/ART cuma 117, tentu perlu ada perbaikan. Oleh karena itu harus dirasionalisasi. Tapi proses ini tidak seperti pegawai negeri kan, masalahnya ini politisi semua. Sehingga, jalan keluarnya adalah kita ingin pakai parameter, yaitu PDLT ( prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela). 

Berarti dapat dipastikan akan ada perampingan pengurus DPP Golkar? 

Akan ada perampingan tentu saja. Hanya saja kita masih bergulat pada perampingan itu berapa yang ideal. Kita sih ingin sesuai dengan AD/ART, tapi kalau ini dilakukan bisa-bisa ada gejolak internal lagi. Supaya badai tak datang lagi, maka kita ambil yang moderat, barangkali antara 170 sampai 200. 

Dengar-dengar ada informasi bahwa pengurus harian sendiri totalnya hanya 67 orang? 

Nah itu belum kita putuskan. Masih kita exercise berapa yang baik untuk kepengurusan ini. 

Yang paling menentukan jelang tahun politik 2018 dan 2019 di struktur Golkar adalah Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu). Ini seperti apa ke depannya? 

Itu juga masih kita evaluasi. Pastinya akan disesuaikan dengan sistem elektoral. Kita akan melihat misalnya Jawa I, ini mau kita pecah berapa, apakah tiga atau dua saja. Intinya memang disesuaikan dengan target kita mencapai kemenangan pada Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 nanti. 

Isu kedua yang tidak kalah seksinya kalau bicara struktur adalah posisi sekjen. Kemarin katanya sudah mengerucut ke dua nama? Ada Ibnu Munzir dan Letjen Eko Wiratmoko. Perkembangannya seperti apa? 

Ya, kalau menurut saya masih seperti itu ya. Artinya dalam analisa kami, kelihatannya antara Pak Ibnu Munzir dan Pak Eko. Mudah-mudahan ini bisa diputuskan secepatnya. Saya yakin dua-duanya memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai sekjen. 

Kalau terkait pengurus yang dulu ikut gerbong Setya Novanto, seperti apa posisinya di kepengurusan Pak Airlangga? 

Ya, memang kita tidak bisa sembarangan melakukan rasionalisasi. Sebab kalau kita melakukan itu bisa ada gejolak. Misalnya soal PDLT, mereka juga banyak kok yang memenuhi persyaratan. Masa iya tiba-tiba mereka harus dikeluarkan dari kepengurusan, itu kan tidak bisa dilakukan. 

Oleh karena itu harus bijak dalam soal ini. Artinya kita cari solusi, kalau pun misalnya sampai tidak masuk dalam kepengurusan (karena akan ada perampingan), mereka nanti bisa berada di badan-badan yang kita bikin. Toh, struktur badan itu juga menopang kegiatan DPP Golkar. 

Artinya akan tetap akomodatif?

Ya, itu juga harus kita cari solusi. Karena orang-orang itu adalah mereka yang mendapat tempat yang baik sebetulnya. Kan biasanya yang mau diperlakukan seperti itu adalah orang yang punya persoalan hukum atau kemudian tercela. Tapi kalau mereka tidak tercela dan tidak ada masalah hukum kita masih pikirkan bagaimana cara mengatasinya. Karena orang-orangnya memang banyak sekali. 

Terkait masalah hukum yang Anda sebutkan tadi. Sekarang kan sudah ada kader Golkar yang punya masalah hukum? Tindakannya seperti apa? 

Ya, tindakan tegasnya adalah kita serahkan kepada hukum. Biarkan meja hijau yang akan memberikan sanksi. Kalau di Golkar sendiri kan pemberian ganjarannya semacam sanksi moral yang bisa dilakukan.

Kalau sudah ada putusan pengadilan, maka tentu ada mekanisme pemecatan. Tapi harus dicatat, itu harus memenuhi persyaratan hukum. Kalau keputusan hukum sudah menyatakan seperti itu, mau tidak mau Partai Golkar harus dan wajib melakukan itu. 

Kita kan juga baru pergantian pemimpin, jadi belum ada rapat apa-apa. Untuk memberikan sanksi itu kita harus rapat, itu biasanya di pleno. Tidak bisa kita putuskan begitu saja, ini tentu akan dibicarakan nanti. 

Sekarang kan ada slogan Golkar bersih. Sejauh ini sudahkah dipetakan dalam kepengurusan yang baru ini, siapa yang kira-kira punya potensi terlibat dalam kasus hukum dan seterusnya? Apakah sudah ada penyisiran? 

Memang itu ada tahap penyisirannya. Tapi kita belum sampai ke sana. Kami baru mendesain model struktur apa yang baik dan ideal. Setelah itu baru kita sisir orang-orangnya, ini siapa, kemampuannya seperti apa, loyalitasnya seperti apa, dan aktivitas selama ini seperti apa. 

Terkait keterwakilan anak muda, kalau PKS kan sempat menyebut akan memberikan porsi caleg 30 persen bagi anak muda di luar 30 persen untuk perempuan? Di Golkar sendiri bagaimana? 

Kita juga membuka peluang atas porsi yang lebih besar bagi anak muda. Tapi saya sepakat juga dengan teman-teman di PKS, bahwa tidak gampang ternyata mencari anak muda yang potensial. Karena yang kita inginkan pemuda yang punya karakter, yang punya visi. Bukan pemuda yang karakternya preman. Jadi memang anak muda yang demikian ini tidak banyak. 

Makanya saya setiap ada acara, saya ajak anak-anak muda Golkar yang mau saya imbau. Karena, mereka barangkali punya potensi untuk berkembang. 

Soal pilkada 2018, target kemenangan Golkar kan 60 persen. Skala prioritas yang mau dimenangkan di 171 wilayah mana saja? 

Pertama, kita mengharapkan Sumatera Utara. Kemudian kedua masih menjagokan Jawa Barat. Ketiga, kita mengharapkan Jawa Timur ada penambahan. Posisi-posisi itu yang kita harapkan. Dan yang keempat tentu yang kita harapkan di luar Jawa, terutama Sulawesi Selatan. Itu yang jadi kantong Golkar yang harus dimenangkan. 

Terkait Pilpres 2019, Golkar sudah mendeklarasikan diri mendukung Pak Jokowi, apakah sudah ada wacana untuk mendorong kader Golkar mendampingin Pak Jokowi nanti?

Hahaha, belum ada, kita belum berpikir ke sana. itu terlalu prematur dan terlalu jauh. Kita yang di depan mata aja dulu deh, sekarang ini adalah bagaimana meningkatkan elektabilitas dan bagaimana memenangkan pilkada sampai 60 persen. Terus juga berusaha memenangkan pileg, target kita bisa meningkatkan kursi dari 91 menjadi 110. Dan yang terakhir adalah bagaimana mengantarakan Pak Jokowi sebagai presiden dua periode. 

Lalu soal rangkap jabatan Pak Airlangga, apakah ke depan akan tetap menjabat sebagai menteri? 

Ya, kita tidak memikirkan masalah rangkap jabatan itu karena sampai sekarang tidak ada persoalan terkait masalah itu. 

Tapi kalau Pak Airlangga diminta mundur apakah beliau siap? 

Itu hak prerogatif presiden, terserah presiden. 

Yang publik juga ingin segera tahu sekarang ini adalah pengganti Setya ovanto sebagai ketua DPR, kira-kira siapa orangnya? 

Terkait ketua DPR kita tidak bisa nyebutin nama ya. Tapi yang jelas karena Pak Airlangga adalah formatur tunggal, saya kok yakin nama calon ketua DPR sudah ada di kantong beliau. 

Dari kabar yang beredar, katanya Bambang Soesatyo, karena sudah dapat restu dari Jokowi. Ada juga nama Agus Gumiwang? 

Saya tidak tahu itu, dan saya tidak mau berspekulasi. Itu teman-teman kita semua, nanti kalau kemudian salah saya tidak mau. 

Anda kan orang dekat Pak Airlangga, lalu kemudian punya posisi penting menysusun struktur Golkar. Anda sendiri di 2019 angan-angannya seperti apa? Apakah akan nyaleg atau bagaimana? 

Pertama, saya hanya ingin mengantarkan Airlangga untuk menjadi pemimpin Golkar, itu sudah tercapai. Selanjutnya saya pikir ingin mendampingi beliau saja. Tidak ada target jadi apa tuh.

Tidak akan nyaleg nih?

Masih jadi pemikiran lah, saya bilang tidak nyaleg tahunya nyaleg. Atau dibilang tidak nyaleng tahunya saya nyaleg, hahaha. Tergantung tugas saya, kalau tugas saya lebih bagus tidak nyaleg, saya tidak keberatan, toh saya sudah pernah jadi anggota DPR. 

Di eksekutif mungkin? 

Saya belum punya pemikiran ke situ, hahaha. 

Bagikan artikel
Tags
#Wawancara
#Happy Bone Zulkarnain
#Airlangga Hartarto
#Golkar
#DPP Golkar
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)