logo rilis

Garis Tangan 
Kontributor

15 Maret 2018, 14:38 WIB
Garis Tangan 

GArIs TangaN
(Bagian 1)

Layaknya kejora
Yang penuh warna
Engkau ceria tanpa jumawa

Redup 
Dalam degup yang takpernah gugup
Seperti bunga yang taklewati kuncup
Selalu mekar.  

Oh mripat biru
mata sendu
dengan bibir semerah madu
takpernah ngilu apalagi menjadi candu.

Kutunggu tengkukmu..
Kucumbu tanpa ragu..
Dari malam hingga siang jam satu...

Tanpa c a p a i

Wijaya, 3 Maret 2018

GArIs TangaN
(Bagian 2)

Leonardo daVinci melukis senyum monalisa 
Tanpa rencana, tak sengaja. 
Ini bukan sperti siang yang mendahului senja.  
Tapi seperti hujan tibatiba

Catnya menipis. 
Tak mampu melukis, hanya mampu membuat garis. Maka pada bibir yang semula sinis
Ia tarik kuas tipis, hingga menjadi manis.

.............

Entah kenapa kita berdua.. 
tanpa rencana, taksengaja.. 
bertemu di meja yang sama.. 
lalu menyala lama dan setia.

Engkau.. katamu padaku.. lihatlah telapak tangan!
Ada garis memanjang seperti angan. 
Namun berhenti di tikungan. 
Bukan sebagai tanda kematian 
tetapi awal pertemuan dan berakhir di peraduan. 

"Apakah ada garis angan lagi setelah peraduan,"tanyaku. 
Dia memelukku erat.
Berbisik dengan suara berat,
"Aku sudah menghapus garis angan yang tadinya memanjang seperti serat....dengan emas dua puluh empat karat...

...hingga tidak mungkin ada lagi pertemuan yang berakhir di peraduan, kecuali hanya untuk jamuan makan," 

Aku.. kata engkau.. adalah peraduan terakhir.
Bahkan penyihir... tak mampu ubah takdir
Walau setipis angin semilir

Aku pun mengharu biru. 
Mencumbunya dengan gayagaya baru. 
Seperti pengantin baru
Sampai menjadi e m p u. . . 

Wijaya, 3 Maret 2018


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)