logo rilis
Dua Model KTP Dinilai Diskrimintif
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
14 Februari 2018, 18:59 WIB
Dua Model KTP Dinilai Diskrimintif
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Rencana Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membuat dua model KTP elektronik (e-KTP) untuk mengakomodir penghayat kepercayaan menuai pro dan kontra. Peneliti Setara Institute, Halili, ini merupakan bentuk diskriminasi terhadap penghayat kepercayaan.

"Itu bentuk diskriminasi lanjutan," kata Halili kepada rilis.id, Rabu (14/2/2018).

Halili menjelaskan, para penghayat kepercayaan selama ini telah mendapatkan berbagai bentuk diskriminasi. Sehingga, apa yang direncanakan pemerintah itu justru akan menambah mereka semakin menjadi korban.

"Itu hanya akan membuat penghayat kepercayaan menjadi korban dari diskriminasi berlapis," ujar Halili.

Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri, Zudan Arif Fakhrulloh membantah kalau hal tersebut merupakan bentuk diskriminasi. Malahan, kata dia, ini adalah perhatian pemerintah kepada penghayat kepercayaan.

"Dulu mereka ingin dimasukkan dalam KTP, mintanya, kan sudah dimasukkan," ujarnya.

"Saya masuk ke teknis administrasi kependudukannya. Itulah masukan-masukan dari berbagai kalangan. Blanko hanya satu, dua aplikasi saran dari MUI. Blangkonya sama," lanjutnya.

Dua desain model pencantuman e-KTP itu di antaranya adalah, identitas agama seperti yang sudah berlaku selama ini. Sedangkan, di model blanko yang kedua, identitas kolom agama tidak dicantumkan, berganti jadi identitas kolom kepercayaan.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Bagikan artikel
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)