logo rilis
Dua Kader Golkar Diciduk KPK, Airlangga Disebut Gagal
Kontributor
Armidis Fahmi
14 Februari 2018, 21:55 WIB
Dua Kader Golkar Diciduk KPK, Airlangga Disebut Gagal
Ketua Umum DPP Golkar, Airlangga Hartarto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum DPP Golkar, Airlangga Hartarto, disebut gagal dalam membenahi partai beringin dari perkara rasuah. Pasalnya, dua kepala daerah yang akan kembali berlaga pada 2018 diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Airlangga gagal di tahun pertama untuk bisa menurunkan slogan Golkar ke dalam karakter bersih ke kadernya," ujar pengamat poltiik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, kepada rilis.id, Jakarta, Rabu (14/2/2018).

KPK mencokok sedikitnya tiga kepala daerah dalam beberapa pekan terakhir. Ketiganya, bahkan kembali maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di wilayahnya masing-masing.

Dari ketiga kepala daerah yang diamankan KPK melalui operasi tangkap tangan (OTT), dua di antaranya merupakan kader Golkar. Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko serta Bupati Subang Imas Aryumningsih.

Di sisi lain, Airlangga secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum DPP Golkar melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), Desember 2017. Menteri Perindustrian ini pun mengganti jargon partai beringin. "Suara Golkar, Suara Rakyat" menjadi "Golkar Bersih, Bersatu, Bangkit".

Perubahan slogan tak lepas dari kasus yang mendera Golkar sebelumnya. Bekas Ketua Umum Setya Novanto tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). Kasusnya hingga kini masih berjalan di pengadilan.

Menurut Ubed, sapaan Direktur Eksekutif Pusat Studi Sosial Politik Indonesia (Puspol) ini, slogan anyar Golkar masih sebatas wacana elite. "Belum diturunkan kepada struktur partai. Jadi, watak koruptifnya belum hilang," jelasnya.

"Jadi, Airlangga sedang tercoreng kepemimpinannya, karena belum menggerakkan menjadi kadernya tidak melakukan korupsi," tnadas Ubed.

Dalam penutupan Munaslub, Airlangga bahkan sesumbar, "Partai Golkar yang bersih bukan hanya sebuah slogan, bukan pula sebuah moralisme tanpa isi. Tapi, merupakan keniscayaan politik. Kalau kita mengingkari ini, Partai Golkar akan merosot dan tersisihkan."

Karenanya, Airlangga meminta kader Golkar mengabdi kepada rakyat, menghindari kontroversi negatif. "Apalagi mereka yang berada di lapisan kepemimpinan, gubernur, wali kota, bupati, harus menjadi tokoh dengan karakter kuat, yang sanggup menarik perhatian rakyat lewat keteladanan dan perbuatan nyata," serunya kala itu.

Editor: Fatah H Sidik


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)