logo rilis
Dadang Rusdiana: Kita yang Punya Rumah Kita yang Diusir
Kontributor
Zul Sikumbang
16 Januari 2018, 13:22 WIB
Dadang Rusdiana: Kita yang Punya Rumah Kita yang Diusir
Ketua Fraksi Hanura di DPR Dadang Rusdiana. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

SENGKARUT partai ternyata tidak hanya dialami partai-partai besar. Partai gurem sekalipun kini mengalami nasib yang sama. Perpecahan di tubuh Partai Hatinurani Rakyat (Hanura) yang berujung saling pecat antara Ketua Umum Oesman Sapta Odang (OSO) dan Sekjen Hanura Sarifuddin Sudding menjadi contoh vulgar begitu rentannya parpol di Indonesia terjangkiti perpecahan. Penyebabnya karena hal-hal yang sifatnya pragmatis atau karena salah urus, bukan lantaran dialektika ideologis.

Apa yang terjadi di Partai Hanura setelah 'diakuisisi' OSO? Untuk mengetahui kondisi mutakhir di partai yang didirikan Wiranto tersebut, wartawan rilis.id Zul Sikumbang mewanwancarai Sekretaris Fraksi Partai Hanura Dadang Rusdiana di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (16/1/2018).

Hanura sepertinya adem-ayem, kok tiba-tiba bergejolak?

Itu kan karena kegelisahan dari dewan pengurus daerah (DPD), kita tidak bisa menahan. Kalau dewan pimpinan pusat (DPP) kan merespons apa yang diinginkan oleh DPD. DPD merasa kecewa, tertekan oleh kepemimpinan yang tidak jelas. Ada beberapa hal yang dirasakan DPD yakni kesewenang-wenangan, arogansi, management by treat (ancaman), sedikit-sedikit pecat. Kalau rapat marah-marah, kata kata kasar, kata kotor, kebun binatang keluar semua. 

Bagaimana dengan kabar perpecahan juga terkait surat keputusan (SK) ganda yang ditandatangani wasekjen Hanura untuk mengusung calon kepala daerah?

Banyaknya SK ganda. Sarifuddin Sudding sebagai sekjen Partai Hanura yang menjaga marwah partai tidak mau tandatangani SK ganda. Makanya muncul SK kedua yang ditandatangani oleh OSO dan Wasekjen Berti Tamara. Itu ada di beberapa puluh kabupaten.

SK ganda yang diterbitkan OSO itu dampaknya apa?

Tentu menimbulkan kekisruhan. Patut diduga ada permainan mahar. Yang dibacakan mungkin lebih kecil dibanding yang dibuat dalam SK. SK ganda itu tidak sekadar berdampak kepada internal Hanura, tapi dampaknya kepada situasi politik keamanan nasional. Bayangkan di sekian puluh kabupaten terjadi huru-hara karena ada dua SK dan itu menimbulkan ketidakstabilan politik di Tanah Air. Jadi bukan hanya berdampak pada Partai Hanura saja, tapi juga berdampak pada nasional dan itu bisa digolongkan makar atau melakukan perbuatan kekacauan yang direncanakan.

Pemecatan OSO sudah sesuai dengan AD/ART partai?

Dalam Pasal 16 ayat 1 AD/ART Partai Hanura disebutkan bahwa, “Dalam kondisi khusus ketua umum bisa dipecat diberhentikan melalui rapat DPP”. Kemarin kita sudah pecat dan rapat DPP kita itu bukan abal-abal dan sesuai dengan AD/ART, ada dewan pembina, dewan penasihat Subagyo HS hadir langsung. 

Yang selama ini terjadi di mereka sejak OSO jadi ketum itu tidak pernah ada rapat harian, rapat pleno yang benar-benar sesuai AD/ART. Kalau Gede Pasek Suardika mengatakan, rapat DPP Hanura di Hotel Ambhara hanya kumpul-kumpul, kumpul-kumpul gimana, rapat kita kemarin itu dihadiri oleh 27 DPD dan 400 DPC. Jadi kita benar. Ketua Dewan Pembina akan menindaklanjuti keputusan pemecatan OSO tersebut. Kita menunggu proses di Dewan Pembina

OSO mempersilakan kalau Wiranto mau ambil kembali jabatan ketua umum Hanura, tanggapan Anda?

Kalaupun Wiranto akan ambil alih ketua umum Partai Hanura, bukan diartikan oleh OSO bahwa Pak Wiranto mau jadi presiden. 

Menurut Anda apa yang terjadi dengan OSO?

Itu menggambarkan kepanikan karena dari sisi jumlah yang hadir kemarin banyak, 27 DPD dan 400 DPC, apa itu kecil kecil. Kedua, secara historis kita sudah duluan di Hanura dibanding OSO. Masak dia mau pecat pendiri-pendiri partai Hanura, seperti Kaltim di-pelaksanatugaskan (Plt)-kan padahal dia itupendiri partai. OSO baru masuk belakangan, aneh nih orang

Kenapa bisa begitu?

Mereka itu masuk Hanura mau apa sih, sekadar mau mengacaukan. OSO termasuk sengkuni. Masak kita mau seperti orang Palestina, kita yang punya rumah, malah kita yang diusir. Tapi saya kan kurang bagus kalau disebut dengan Yahudi. Sudah tak kenal hati nurani rakyat

Kabarnya OSO usulkan kepada Presiden Jokowi agar Wiranto di-reshufflel?

Emang OSO sakti usulin reshuffle kabinet. 

Bagikan artikel
Tags
#wawancara
#perpecahan hanura
#pemecatan oso
#partai hanura
#hanura
#wiranto
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)