logo rilis
Cerita Haru Dokter Halik dari Pedalaman Asmat
Kontributor
Fatkhurohman Akbar
07 Februari 2018, 21:19 WIB
Cerita Haru Dokter Halik dari Pedalaman Asmat
Dokter Halik Malik bersama warga Asmat. FOTO: Dok. Pribadi HM

IA TERTEGUN. Tubuhnya mematung, cuma berdiri dan diam. Pundaknya tiba-tiba kebas, nyaris tak berasa lagi beban ransel di punggungnya. Sesuatu membucah dadanya. 

Ia menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan butiran jernih yang nyaris meleleh dari pelupuk matanya.

Anak-anak kecil sedang bermain di depannya, mereka tampak gembira karena kedatangan tamu dari luar kampung. Semringah, meski wajahnya pucat. 

Badan mereka kurus, lebih tepat kering. Karena tulang rusuknya kelihatan menembus kulit. Perutnya buncit. Halik terpejam. Dua butir air mata, akhirnya membasahi pipi Dokter muda itu.

"Bapak dokter," sapa seorang anak yang berlari menghampirinya. Mereka terlihat ingin bercengkerama. Halik mengelus kepala anak itu, senyumnya pilu. 

“Bagaimana bisa mereka seceria ini? Padahal, secara medis, umurnya belum tentu panjang. Kondisi mereka sudah kritis…” batinnya. 

Hingga saat ini, 71 orang meninggal akibat wabah campak dan gizi buruk di Asmat. Dokter Halik Malik, memimpin tim ke-2, kolaborasi Ikatan Dokter Indonesia dan Dompet Dhuafa, tiba di kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, 22 Januari lalu. 

Ia terjun langsung untuk meringankan beban Kejadian Luar Biasa (KLB) yang telah menelan korban nyawa tersebut.

"Ini enggak mungkin sebentar," simpulnya. 

Sudah hampir dua pekan Halik menyusuri kampung-kampung di pedalaman Asmat. Jenis penyakit yang ditemuinya beragam. Mulai dari sesak nafas, radang paru-paru, diare, dan demam tinggi karena malaria.

"Sekalipun kondisinya sudah kritis, sebagian dari mereka masih menganggapnya biasa. Tak sedikit situasi dilematis yang seperti itu," beber Halik kepada rilis.id, melalui jaringan WhatsApp, Senin (5/2/2018).

Masalah lain, tidak semua Puskesmas memiliki tenaga kesehatan. Puskesmas pembantu tak berfungsi di kampung. Lalu, Posyandu juga tidak ada, perawat dan bidan? Jangan ditanya. Fasilitas kesehatan sangat minim. 

Bukan sekali dua kali ia menahan haru. Apalagi, ketika ada anak yang sakit, kritis. Namun sulit dirujuk karena pihak keluarga tak berkenan ke rumah sakit di kota. Selain terbatas, ongkos transportasi juga sangat mahal. 

Penduduk Asmat, tersebar di 23 distrik dan 224 kampung. Permukiman saling berjauhan, terpisah sungai dan rawa-rawa. Buat sewa kapal, jelasnya, butuh biaya Rp 3 - 10 juta per hari.

"Itu juga cuma 2-3 kampung yang dapat kami jangkau. Karena medannya berat. Belum masalah cuaca, dan banyak buaya." 

Menurutnya, hanya pagi hingga sore timnya beraktifitas. Bila sudah malam, ia memutuskan bermalam di kampung yang dikunjunginya demi keamanan. “Seluruh kampung di distrik yang kami kunjungi, meskipun lokasinya tergolong dekat dengan kota Agats, belum ada listrik dan sinyal hp.” 

Masyarakat Asmat, jelasnya, masih senang tinggal di hutan. Mereka mencari makanan dengan tinggal di rumah-rumah yang dibuat di tengah hutan atau di pinggir kepala sungai kecil. Rumahnya disebut befak. 

Karena kondisi itu, sebagian anak dan ibu hamil sulit ditemui di kampung. “Mereka tinggal di befak seminggu sampai dua minggu.”

Dokter jebolan Universitas Hasanuddin ini pun berharap, adanya upaya serius mengisi kekosongan tenaga kesehatan di distrik dan pelayanan keliling untuk menjangkau kampung-kampung. Hal penting lainnya, adalah pemenuhan infrastruktur dasar kesehatan seperti air bersih dan pendidikan kesehatan yang benar sesuai kondisi sosial masyarakat Asmat. 

Selain pelayanan tanggap darurat, tim yang dipimpin Dokter Halik juga melakukan assesment untuk pengembangan program tindak lanjut, diantaranya pengadaan air bersih (water purifier), pendirian pos gizi (foodbank/terapeutic feeding centre), dan pemberdayaan untuk menanamkan pola hidup sehat serta pengembangan pangan lokal dan ekonomi masyarakat.

Dari pedalaman Asmat, Dokter Halik terpekur. Tanah Papua, pemilik harta karun tembaga, perak dan emas yang dikeruk sejak tahun 1971 hingga kini, ternyata, anak-anaknya, pewaris sekaligus penerus sejarahnya, dikelindangi gizi buruk, sekaligus tentu, masa depan yang suram. Namun, ia tak sepenuhnya mengerti; kenapa?

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (2)

Aisyah Inara Rabu, 07 Februari 2018 | 23:55
Menggugahhhhh... Dari pedalaman Asmat, Dokter Halik terpekur. Tanah Papua, pemilik harta karun tembaga, perak dan emas yang dikeruk sejak tahun 1971 hingga kini, ternyata, anak-anaknya, pewaris sekaligus penerus sejarahnya, dikelindangi gizi buruk, sekaligus tentu, masa depan yang suram. Namun, ia tak sepenuhnya mengerti; kenapa? Karena Jakarta tak pernah utuh melihat Papua

Dewi Anggraeni Kamis, 08 Februari 2018 | 00:51
Asmat, tentang lubang dalam merah putih yang perlu dijahit