logo rilis
Cemerlang Nahkodai Golkar, Airlangga Banjir Dukungan
Kontributor
RILIS.ID
31 Juli 2019, 18:22 WIB
Cemerlang Nahkodai Golkar, Airlangga Banjir Dukungan

RILIS.ID, — Kecemerlangan Airlangga Hartarto mengantarkan Partai Golkar finish di posisi kedua perolehan kursi terbanyak DPR RI diapresiasi sejumlah kalangan. Pasalnya, raihan suara pada Pileg 2019 tersebut dicapai hanya dalam kisaran 1,5 tahun di tengah kondisi partai yang sebelumnya carut-marut didera isu korupsi dan dualisme.

“Hanya dalam waktu satu setengah tahun memimpin, Airlangga mampu melakukan konsolidasi seluruh mesin partai, sehingga Golkar menjadi peraih kursi terbanyak kedua di DPR RI, dan itu menunjukkan prestasinya,” kata Rudolfus Jack Paskalis, Koordinator Jaringan Aktivis Muda (JAM) Golkar di acara diskusi ‘Siapa Layak di Pucuk Beringin?’ pada Selasa (30/7/2019) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Menurut Rudolfus, Airlangga yang mendapat mandat sebagai Ketua Umum Golkar pada tahun 2017, hanya memiliki waktu sekitar satu setengah tahun untuk melakukan konsolidasi menuju Pileg dan Pilpres 2019. Batas waktu yang singkat itu mampu dimanfaatkan secara optimal sehingga Partai Golkar meraih kursi terbanyak kedua di DPR RI setelah PDI Perjuangan. Oleh karenanya, ia menilai opini yang mengatakan bahwa Airlangga gagal memimpin Golkar adalah hoax. 

“Jadi runtutan sejarah itu perlu saya sampaikan kepada temen-temen media, bahwa kalau ada opini yang mengatakan bahwa Pak Airlangga Hartarto gagal memimpin Golkar pada kontestasi politik Pileg dan Pilpres 2019, maka itu adalah hoax,” tambah Rudolfus.

Dipimpin Airlangga, Golkar Bersih – Golkar Bangkit

Ada sejumlah langkah strategis yang ditempuh Airlangga setelah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar sejak Desember 2017. Pertama, dengan mengusung slogan “Golkar Bersih, Golkar Bangkit”, kepengurusan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga bertransformasi menjadi Partai yang modern, berintegritas, dan mendukung isu pemberantasan korupsi. Kedua, sejalan dengan slogan tersebut, di bawah kepemimpinan Airlangga, Fraksi Golkar di DPR RI menarik diri dari keanggotaan Pansus Hak Angket KPK di DPR RI.

“Penarikan (keanggotaan Pansus Angket KPK) saat itu sejalan dengan visi Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga. Dan ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik terhadap Partai Golkar,” ujar Derek Loupatty SH, Badan Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (BAKUMHAM) DPP Partai Golkar dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu (31/7/2019).

Pansus Angket KPK sebelumnya dibentuk oleh DPR RI dengan salah satu pengusungnya adalah Bambang Soesatyo. Bamsoet, biasa ia dipanggil, menginisiasi pembentuk Pansus Angket KPK tersebut tidak lama setelah merebaknya kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (E-KTP) yang melibatkan Setya Novanto selaku Ketua DPR RI.

“Setelah menjadi Ketua Umum, Pak Airlangga langsung mengambil langkah untuk menarik anggota Partai Golkar dari Pansus dan meminta Pansus segera diselesaikan dengan kesimpulan yang tidak melemahkan KPK,” imbuh Derek.

Tindakan ini, menurut Derek, sangat signifikan terhadap meningkatnya kepercayaan publik. Hasilnya, pada Pemilu Legislatif 2019, capaian Partai Golkar mampu melampaui prediksi lembaga-lembaga survei yang saat itu menduga Partai Golkar akan terpuruk setelah beberapa kadernya terjerat kasus korupsi. Selain itu, Partai Golkar menjadi partai pertama yang mengusung pasangan Presiden-Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019. 

Terkait dengan agenda Musyawarah Nasional Partai Golkar yang rencananya digelar pada Desember 2019, Derek menganggap Airlangga Hartarto sangat layak memimpin kembali Partai Golkar. Kepemimpinan yang akomodatif, bersih, dan berintegritas, menjadi keunggulan Airlangga yang telah terbukti dan diapresiasi oleh segenap kader Golkar.

“Menuju ‘Golkar Berintegritas’, Airlangga adalah sosok terbaik yang mampu memimpin Golkar agar lebih jaya di masa mendatang,” tegas Derek.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID