logo rilis
Berita soal Sarden Bikin Banyak Pabrik Tutup
Kontributor
Ainul Ghurri
31 Maret 2018, 20:59 WIB
Berita soal Sarden Bikin Banyak Pabrik Tutup
Industri ikan kalengan. FOTO: Dok Setkab.

RILIS.ID, Jakarta— Pemberitaan soal temuan ikan makarel yang mengandung cacing oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ternyata berdampak buruk pada industri ikan kalengan. Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) mencatat, sekitar 26 pabrik pengalengan Ikan se-Indonesia yang berhenti beroperasi. 

Ketua APIKI, Ady Surya, mengatakan, puluhan pabrik tersebut, terpaksa menghentikan operasionalnya. Sebab, kondisi pasar membuat mereka begitu. Akibatnya, ribuan pegawai pabrik pun terpaksa dirumahkan (PHK).

"Dampak sosial yang luar biasa begitu terasa. Pabrik tidak lagi mengolah makarel. Setelah produk ditarik, otomatis pabrik pun tutup, meski kebanyakan memang (pabrik) produk ikan makarel yang tutup," ujar Ady saat ditemui di Apartemen Mitra Bahari, Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (31/3/2018).

"Sekarang kami sudah merumahkan karyawan sehingga berdampak psikis. Usaha pengalengan ikan menjadi lesu, kan tidak ada yang kami produksi, otomatis ya kami rumahkan ribuan pekerja kami," imbuh dia.

Sayangnya, Ady tidak merinci secara detail jumlah karyawan yang dirumahkan akibat temuan ikan makarel bercacing itu. "Pegawai yang sudah dirumahkan belum saya hitung. Tapi, satu pabrik minimal 500 hingga 5.000 orang," tuturnya.

Temuan ikan makarel bercacing, kata Ady, juga berdampak terhadap tingkat kepercayaan masyarakat dalam mengkonsumsi ikan kaleng. Sehingga tak bisa dipungkiri, industri pengalengan ikan mengalami kerugian yang ditaksir mencapai milliaran rupiah.

"Dampak psikis terjadi ketidakpercayaan terhadap produk yang sudah saya dalami selama 30 tahun. Kasus ini menjadi musibah dan persoalan tersendiri. Kami rugi, enggak ratusan juta ya, tapi miliaran," ungkap Ady.

Ady menambahkan, 26 pabrik yang ditutup mayoritas berada di kawasan Banyuwangi, Bali dan Jawa Tengah. Ia berharap, segera ada jalan keluar terbaik terhadap dampak yang ditimbulkan dari pemberitaan makarel kalengan bercacing ini. 

"Di Pulau Jawa dan Bali, kemarin saya periksa ya tutup karena tidak ada yang bisa kami produksi. Kami berharap, apa yang terjadi adalah dari rakyat untuk rakyat dikonsumsi rakyat dan kami harap terjadi Tabayyun (klarifikasi berimbang)," tutupnya.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID