logo rilis
Berawal Karena Pornografi
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
02 Februari 2018, 19:40 WIB
Berawal Karena Pornografi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

SEMUA karena pornografi. Kalau melihat hasil penelitian, pemicunya 43 persen kekerasan seksual, dipengaruhi "candu" tersebut. Lucunya, para pelaku adalah orang-orang terdekat yang dikenal korban.

Data tersebut berdasarkan penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta bersama End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes (Epcat) Indonesia.

Pornografi dianggap menjadi pemicu utama, lalu kedua adalah pengaruh teman sebesar 33 persen. Sebanyak 67 persen pelaku menggunakan paksaan, 30 persen berupa sentuhan pada organ sensitif dan 26 persen hubungan badan.

Melihat fenomena tersebut, Wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin, mewawancarai Komisioner KPAI, Putu Elvina dan Komisioner Komnas Perempuan, Sri Nurherawati.

Bagaimana tren kekerasan seksual terhadap belakangan ini?

Putu (KPAI)

Kalau dari data KPAI, dibanding 2016, terjadi penurunan laporan pengaduan masyarakat, namun bukan berarti kasusnya menurun. Sebab, banyak lembaga pengaduan lain, termasuk di daerah-daerah. Jadi, pengaduan tidak terkonsentrasi ke KPAI saja.

Angka kekerasan seksual terhadap perempuan pada 2017 kemarin meningkat kah?

Sri (Komnas Perempuan)

Secara angka, kami sedang rekapitulasi. Namun, kasusnya memang meningkat. Korban umumnya depresi dan bunuh diri. Belum lagi, meluasnya kasus yang dilaporkan akibat cyber crime, bahkan pornografi digital.

 

Apakah pornografi menjadi penyebab masifnya kasus ini?

Putu (KPAI)

Motif yang dilakukan untuk kasus kejahatan seksual macam-macam, seperti kemarin di Tanggerang. Pelaku alibinya karena lama ditinggal istri sehingga "kebutuhannya" terhambat. Tapi, memang banyak juga karena tontonan pornografi.

Namun, dari beberapa kasus memang kelihatan aspek pornografi punya pengaruh besar. Misal, pelaku anak, mereka umumnya karena habis menonton film porno. Lalu, ada kedekatan saat pacaran. Memang anak-anak ada pergeseran model berpacaran yang menyerempet ke sana.

Kenapa bisa masif sekali pemerkosaan itu terjadi. Apa pornografi penyebabnya?

Sri (Komnas Perempuan)

Pornografi hanya pemicu, namun relasi kuasa lah yang menjadi akar masalah. Sistem hukum yang belum menguat dan melindungi korban perkosaan akhirnya memperburuk situasi dan berdampak pada peningkatan pemerkosaan di antaranya 'gang rape'.

Kalaupun karena suka sama suka, dalam kondisi relasi yang timpang maka tetap itu disebut sebagai kekerasan seksual. Bahkan, "kesediaan" korban kerap kali dikondisikan mengikuti keinginan pelaku.

 

Solusinya seperti apa ke depan?

Putu (KPAI)

Perlu edukasi ke anak, dan kontrol menjadi hal yang penting. Tapi, kalau pelaku ini adalah orang dewasa, maka pemberatan hukum adalah solusinya supaya timbul efek jera.

Rekomendasi ke pemerintah seperti apa?

Sri (Komnas Perempuan)

Pergaulan bebas adalah kekerasan seksual itu sendiri.
Rekomendasi ke pemerintah untuk menyediakan fasilitas dan sistem pencegahan yang tepat.

 

Apakah keterbukaan informasi di internet menjadi masalah?

Putu (KPAI)

Sebenarnya itu kembali pada aspek moralitas masing-masing individu. Kalau memang memiliki moral yang baik, meski ada kesempatan, rasanya tidak akan terjadi kekerasan seksual itu sendiri.

Bagaimana peranan media sosial dalam kasus ini?

Sri (Komnas Perempuan)

Media sosial biasanya dimanfaatkan para pelaku untuk membuat korban kekerasan seksual semakin rentan. Maka, perubahan paradigma tentang seksualitas menjadi penting dengan pengetahuan.

Baca juga

Bagian 1: Budaya 'Esek-esek' Jadi Tren
Bagian 2: Mau Bikin Aturan Antizina
Bagian 3: Ketika Bayi Malang Jadi Korban
Bagian 4: Hindari Main hakim Sendiri
Bagian 5: Berawal Karena Pornografi

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)