logo rilis
Bayu Eka, Penerjemah Luis Milla dan Buku Putihnya
Kontributor

15 Desember 2017, 08:58 WIB
Bayu Eka, Penerjemah Luis Milla dan Buku Putihnya
FOTO: RILIS.ID/Syahrul Munir

MIMPI yang belum tuntas. Kalimat itu yang terlontar dari Bayu Eka Sari Teguh, penerjemah Pelatih Tim Nasional Indonesia, Luis Milla, saat ditanya soal ekspektasinya dalam meniti karier saat ini. 

Rutinitas yang dilakoni selama 10 bulan belakangan ini merupakan doa dirinya tujuh tahun silam, saat masih duduk di bangku kuliah pada 2010. 

Baca Juga

"Saya ingin membawa Indonesia ke Piala Dunia. Itu cita-cita saya," ujar Bang BES, panggilan akrab Bayu Eka ditemui di kedai kopi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta, belum lama ini. 

Bang BES, menjadi satu-satunya orang terdekat Luis Milla selama menjalani tugasnya sebagai pelatih Tim Merah-Putih. Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan itu, bisa dibilang menjadi teman setia Milla di lapangan. 

Kedekatan keduanya itu hanya bisa dipisahkan oleh kepentingan di luar lapangan. Sepanjang masih berurusan dengan si kulit bundar, penggemar klub Juventus itu dengan setia di samping sang pelatih asal Spanyol tersebut.  

Soal cita-citanya membawa Tim Merah-Putih menembus Piala Dunia, bagi Bang BES jalan menuju puncak tertinggi sepak bola itu mulai terbuka. Sambil sesekali menengok telepon genggamnya, Bang BES mengatakan, pertemuan dengan Luis Milla menjadi faktor pembuka jalan untuk mewujudkan mimpinya itu. 

"Luis Milla sudah tahu keinginan saya untuk bisa duduk di Markas FIFA di Zurich. Kalau sudah ada wakil di sana, otomatis untuk lolos ke Piala Dunia akan lebih mudah," ujar pria yang mengenakan kemeja hitam bertuliskan PSSI di dada kirinya itu. 

Bercerita soal mimpi kecilnya untuk membawa Tim Merah Putih menembus Piala Dunia, Bang BES memiliki pengalaman lucu.

Pria yang mengidolakan kiper terbaik dunia 2017 dari Juventus, Buffon itu teringat saat pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris. Satu per satu anggota PPI memperkenalkan diri berikut jurusan dan universitasnya. 

Mulai dari mahasiswa S3 jurusan teknik nuklir, ekonomi dan jurusan keren lainnya. Begitu giliran dirinya, Bang BES menyebut nama dan cita-citanya ingin membawa Indonesia ke Piala Dunia dengan suara lantang. 

Sontak saja, sebagian besar peserta di ruangan tersebut tertawa geli mendengar pernyataan BES yang dianggap berkelakar. Usai acara, lulusan SMA Taruna Nusantara tahun 2009 itu dihampiri sang Dubes dan mempertanyakan apakah pernyataan itu sungguh-sungguh.

"Memang itu cita-cita saya dari kecil, Pak," ujar pria yang memiliki jersey mantan gelandang Manchester United asal Prancis, Eric Cantona, mengenang perbincangannya dengan Dubes di Paris. 

Si Buku Putih

Dalam pertemuan sekira setengah tahun lalu, Bang BES memperlihatkan buku putih tebal dari dalam tas gendongnya. Buku putih itu ternyata catatan harian yang diutarakan Pelatih Luis Milla untuk diterjemahkan kepada pihak terkait. 

"Bagaimana cara mengingat ucapan Luis Milla sebelum disampaikan kepada pemain atau pihak tertentu," tanya rilis.id.

 "Semuanya saya catat di dalam buku putih ini. Ucapan penting semuanya tercatat di sini," ujar Bang BES.

Bukan hanya menunjukkan, Bang BES pun sempat memperlihatkan goresan pena yang ada di setiap lembar buku putih secara sepintas. Mulai dari strategi bermain, nama-nama pemain yang mendapatkan masukan khusus dan masih banyak yang lainnya. Semua pembicaraan Luis Milla, tercatat rapih tanpa ada yang terlewat. 

"Saya tidak ingin ada satu kata pun yang terlewat karena bisa berdampak," ujarnya. 

"Dari mana ide mencatat pernyataan Pelatih Luis Milla ke dalam buku putih?"

"Ini kebiasaan saat kuliah dulu. Karena di sana (Prancis) tidak ada fotocopy, atau buku panduan, semuanya ditulis di buku." 

Soal Buku Putih ini, Bang BES mengatakan, kalau dirinya sudah meminta izin kepada Pelatih Luis Milla untuk menuangkan catatan harian ini menjadi buku. Idenya itu, kata Bang BES, mendapatkan respons positif. 

"Saya sudah sampaikan ke Luis Milla jika suatu saat tidak lagi bekerja sama akan saya buatkan buku dari catatan harian ini," ujarnya. 

Bahasa Spanyol Berantakan

Di sela-sela semangatnya menceritakan sepak bola, intonasinya sedikit menurun saat menceritakan riwayatnya masuk ke PSSI sebagai pendamping Pelatih Luis Milla. Ia menyebutkan, saat itu melamar di posisi Admin PSSI, yang hanya mengurus surat menyurat dan membalas surat elektronik. 

Baginya posisi itu tidak menjadi soal yang penting bisa bergabung dengan federasi sepak bola yang menjadi hobi sejak kecil. Saat sesi wawancara, ia ditanya apakah bisa berbahasa asing? Dijawabnya kalau dirinya bisa berbicara dengan tiga bahasa asing, yakni bahasa Prancis, Portugis, dan Bahasa Inggris. 

Jawaban itu membuat penanya terperanjat dan sedikit curiga. Kemudian, ia diminta ngobrol menggunakan bahasa Prancis dengan seorang karyawan PSSI yang kebetulan terbiasa bahasa Prancis. 

Setelah dilihat menguasai, pewawancara itu memberikan nomor telepon Pelatih Luis Milla dan memintanya untuk menghubungi pelatih asal Spanyol tersebut. Dengan penuh rasa canggung dan takut, Bang BES memberanikan diri. 

"Saya sudah sempat catat apa saja yang mau saya tanyakan dengan bahasa Spanyol. Bahasa saya saat itu ancur-ancuran dan berantakan banget," ujarnya. 

Di tengah keterbatasan bahasa Spanyol, Bang BES memiliki kesan pertama dengan Luis Milla begitu mendalam. Pernyataan pertama Luis Milla ini mampu menghapus ketegangan dan rasa tak percaya diri yang hinggap dalam dirinya waktu itu. Betapa tidak, ia sadar betul kalau bahasa Spanyol yang disampaikan dalam percakapan perdananya rancu dan berantakan. 

"Luis Milla malah lebih banyak memuji saya dengan kalimat, 'kamu akan banyak membantu saya'," ujar BES mengulang pernyataan Pelatih Luis Milla sambil tersenyum.


#sosok
#luis milla
#timnas
#bes
#bayu eka
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)