logo rilis
Andy Soebjakto dan Kecemasan Chairil
Fatkhurohman Akbar
22 Januari 2018, 19:11 WIB
berita
Andy Soebjakto ziarah ke makam bapaknya, Achmad Soemardi Effendi, di Taman Makam Pahlawan Gajahmada Mojokerto. FOTO: Twi

PUKUL dua dini hari. Lampu kota temaram menerangi Jalan Matraman, Jakarta. Tak banyak kendaraan, lengang. Sebuah mobil Avanza tiba-tiba melintas dengan kecepatan tinggi. “Bruakkkk…,” terdengar benturan.

Mobil itu menyenggol motor yang lambat melipir ke bahu jalan. Namun, sang pengemudi tak peduli, melarikan diri. Seketika orang ramai berkerumun.

Seorang lelaki dari kejauhan melihat kerumunan. Ia bergegas ke dalam lingkaran orang-orang. Spontan, ia memberhentikan taksi setelah melihat darah berceceran. Korban, seorang perempuan hamil.

Sayangnya, para sopir keburu ngeri dan memilih pergi. Lelaki itu panik. Ada dua nyawa mesti diselamatkan, ibu dan janinnya.

Untung, ada pengendara bajaj yang tak keberatan, meski dengan harga tidak wajar. Lelaki itu tak ambil pusing. Kepalanya mengangguk, menyetujui permintaan si "abang".

Ia lalu membopong korban ke atas bajaj, mencari rumah sakit terdekat. Setiba di ruang UGD, seorang dokter menghampirinya. "Telat dikit aja, sudah tidak tertolong. Nyaris kehabisan darah, dan air ketubannya kering.”

“Jadi?” lelaki itu cemas.

”Insya Allah keduanya selamat. Bapak suaminya?”

"Alhamdulillah…,” timpalnya penuh syukur. “Saya tidak mengenal korban, Dok. Saat kejadian, saya sedang minum kopi di Warteg, 50 meter dari TKP. Saya langsung membawanya ke sini dengan bajaj," jelasnya kemudian.

“Maaf, jadi administrasinya?”

“Tolong ditangani, Dok. Bila tidak ada keluarga korban yang dapat dihubungi, saya yang bertanggung jawab.” Lelaki itu menyodorkan kartu nama.

Dokter tertegun, lalu menarik napas panjang. Tak lama, mengiyakannya. Lelaki itu pun beranjak meninggalkan rumah sakit.

***

Nama lengkapnya Andy Soebjakto. Di sudut ruang UGD, ia tak kuasa menahan air mata. Hari itu, Jumat, 22 November 2012.

Andy, kelahiran 14 Agustus 1969, kini menginjak usia 49 tahun. Kepekaan sosial dan jiwa kepemimpinan tumbuh dalam dirinya sejak usia remaja. Ia menjadi Ketua OSIS di SMP Negeri 3 Mojokerto dan SMAN 2 Mojokerto.

Saat melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Andy juga didaulat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Unibraw tahun 1993. Posisi yang membuatnya merancang sekaligus memimpin sejumlah gerakan mahasiswa di Jawa Timur. Mulai dari penolakan SDSB, menentang ruislag kampus APP Malang, dan membela petani Madura yang tanahnya dirampas semena-mena untuk pembangunan Waduk Nipah tahun 1993.

Awal Reformasi yang turut disulutnya, Andy pindah ke Jakarta. Di kota itulah, ia dikenal luas di kalangan aktivis, birokrat, militer, ulama, pengusaha, seniman, hingga PKL dan anak-anak jalanan, utamanya di kawasan Gelora Bung Karno.

Jakarta, setelah 21 Mei 1998, berkelindan “berbagai kemungkinan” akibat transisi demokrasi. Pentolan aktivis terpolarisasi. Tak sedikit yang memilih jalan pintas survivalitas, melalui sejumlah negosiasi dan kompromi.

Andy bergeming. Padahal, godaan tak sedikit. Ia memilih tetap menenun kebersamaan dan merawat habituasi demokrasi. Erat digenggamnya prinsip “jalan kebahagiaan adalah setia pada kebajikan”.

Pentolan aktivis mahasiswa yang tetap sederhana itu, kini pulang ke Mojokerto, kampung halamannya, mengikuti kontestasi Pilkada. Namun tak sedikit karibnya di Jakarta yang sangsi. Karena jalan seperti itu, dulu, terbuka bahkan pintas baginya. Tapi, selalu ia hindari.

Informasi itu membuat rilis.id mengonfirmasi langsung kepada Andy. “Insya Allah...,” jawabnya singkat. Menurutnya, bermula dari diskusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terkait Pilkada Mojokerto 2018.

“Panggilan” pulang kampung itu membuatnya menggeledah diri sejujur mungkin; jalan pengabdian, atau silau tampuk kekuasaan?

Pada ujung kontemplasinya, senja itu, Andy menyepi ke makam bapaknya, Achmad Soemardi Effendi, seorang pemuda Mojokerto di bawah pimpinan Ahyat Halimi yang turut menyabung nyawa di pertempuran bersejarah Surabaya, 10 November 1945.

Di depan nisan, di Taman Makam Pahlawan Gajahmada Mojokerto, kecemasan Chairil Anwar mengusik kepalanya. Untuk apa semua kematian itu? “Jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan, atau tidak untuk apa-apa.”

Ziarah itu membuat Andy tertunduk dalam keharuan yang dalam. Kecemasan Chairil dalam “Krawang-Bekasi”, baginya, bukan sekadar sajak. Kematian bapaknya, serta jutaan jasad lainnya yang terbaring di taman makam pahlawan, mesti diberi arti. Ia yakin, semua kematian itu, untuk sebuah cita-cita.

“Saya akhirnya bismillah untuk mengabdi pada cita-cita itu,” suara Andy pelan.

Hasil kontemplasi itu, ia paparkan ke PPP dan PKB. Tak lama berselang, disambut positif Partai Demokrat, disusul PKPI dan PSI. Rabu (10/1/2018) malam, berpasangan dengan Ade Ria Suryani, Andy akhirnya resmi mendaftar ke KPU Mojokerto; meniti jalan pengabdiannya.

Tags
#Andy Soebjakto
#Pilkada Mojokerto
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)