logo rilis

Achsanul Qosasi: Bola buat Saya Tempat Refreshing
Kontributor
Yayat R Cipasang
08 Januari 2018, 15:19 WIB
Achsanul Qosasi: Bola buat Saya Tempat Refreshing
ILUSTRASI: Hafiz

ACHSANUL Qosasi selama ini dikenal sebagai politisi senior Demokrat dan sempat dikenal kritis di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR. Dari Kompleks Parlemen, putra Madura ini kemudian menyeberang menjadi Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Di tengah kesibukan tugas kenegaaraan, Achsanul ternyata memiliki 'mainan' lain yang menjadikannya tempat refresing. Jabatan yang disandangngnya pun bukan ecek-ecek, Presiden Madura United. Sepakbola, bagi Achsanul bukan sekadar permainan kulit bundar tetapi di sana juga ada industri, jaringan, bisnis, massa dan hiburan.

Dalam sebuah kesempatan wartawan rilis.id  Yayat R Cipasang sempat berbincang santai dengan Achsanul di Lantai 18 Gedung BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta dan berikut petikannya.

Apa arti sepakbola menurut Anda?

Sepak bola itu bagi saya kan hobi. Sepakbola juga bagi saya tempat refreshing dari berbagai rutinitas. Kalau orang mungkin hobinya golf atau motor besar dan hobi lainnya tapi bagi saya dari dulu memang suka main bola.

Sejak kapan Anda mulai main sepakbola?

Sejak SD-lah. Memang, saya sejak kecil suka main bola. Saya mencintai sebakbola sejak di kampung tanpa alas kaki, pakai bola plastik, kalau kempes diisi dengan jerami dan gawangnya pun pakai batu. Sampai kuliah saya bermain bola kendati tidak sampai menjadi pemain profesional dan saya berhenti main bola ketika memang waktunya harus berhenti.

Namun dari main bola itu saya mendapatkan banyak pelajaran seperti kebersamaan, kepedulian dan kedisplinan. Ketiga hal itulah yang membuat sepakbola dicintai berbagai lapisan masyarakat.

Liga musim depan akan segera dimulai, target Anda seperti apa?

Berbicara tentang musim depan saya sudah berkoordinasi dengan manajer dan tim pelatih yang tiap hari memantau dan bersama pemain mengenai persiapan musim depan dan juga target-target yang akan dicapai. Mudah-mudahan sih lebih baik dari musim sebelumnya.

Target kita sebelumnya tiga besar tapi meleset menjadi lima besar karena memang ada kejadian-kejadian menarik di akhir-akhir kompetisi. Yang mestinya kita dapat ternyata tidak bisa. Tapi itu saya bisa maklumi melesetnya juga tak terlalu jauh.

Apa penyebab target klub tidak tercapai?

Dari liga sendiri yang peraturanya berubah-berubah. Kemudian dari klub, ada yang menghalalkan segala cara untuk menjadi juara. Pertandingan didesian tanpa penonton sehingga tidak ada supporter-nya.

Overall, secara umum PSSI sekarang lebih bagus. Ini kompetisi resmi pertama setelah kita dikenai sanksi FIFA.  Wajar kalau ada kekurangan. Tapi dalam kompetisi berikutnya tidak boleh ada lagi kekurangan-kekurangan seperti ini.

Sejak kapan muncul keinginan membuat klub sepak bola profesional?

Saya itu sejak 1999 sudah jadi pengurus Persija Selatan. Kemudian jadi Ketua Umum Persija Selatan pada 2000 hingga 2011. Jadi sebelas tahun saya ini mengurusi sepakbola di Jakarta Selatan.

Untuk urusan memiliki klub ini awalnya tidak terpikirkan lebih kepada mengelola saja. Tapi seiring dengan peraturan yang ada dan terus berubah dan memungkinkan swasta memiliki klub sepakbola, saya pun berusaha untuk memiliki sebuah klub.

Pada saat PSSI dikenai sanksi oleh FIFA, klub-klub ini kan nyaris tidak ada harganya. Hampir semua klub itu murah. Kita pun beli Persipasi Bandung Raya (PBR) dengan harga yang murah, harga yang wajar. Nggak sampai puluhan miliar dan bisa dicicil sambil menunggu kapan sanksi untuk PSSI berakhir dan liga segera bergulir.

Reformasi di PSSI sudah berjalan?

PSSI setelah di-restart dan diformat ulang memang sudah ada perbaikan. Walaupun cerita-cerita lama masih berulang tapi ini dapat dikikis dengan reformasi di kepengurusan dan kompetisi sudah berstandar bisnis dan pertandingan kelompok umur sudah menjadi standar pembinaan prestasi.

Dua-duanya harus bergulir bersamaan. Tentu, kompetisi harus bergulir untuk membiayai pembinaan dan pengurus harus komit agar dua-duanya berjalan. Karena itu seharusnya kepengerusan PSSI itu jangan dirangkap. Jadi harus total. Kemarin-kemarin tak apalah karena kita baru dikenai sanksi tapi ke depan harus total.

Tentu harus orang sepakbola, punya jaringan luas di tingkat kepengurusan sepakbola nasional juga internasional.

Dan, yang tak kalah penting negara juga harus turun tangan. Karena sepakbola ini membawa negara. Membawa nama baik negara di kancah internasional. Negara itu harus terlibat dalam pembinaan usia muda dan negara juga harus membiayai Tim Nasional. Karena mereka itu tampil mewakili negara Indonesia dan di dadanya ada Garuda Pancasila.

Negara lain itu Timnas-nya dibiayai negaranya. Di kita, sejak saya jadi bendahara PSSI negara tak pernah membiaya Timnas. Karena itu ketika akan bertanding kita selalu kesulitan dana. Dampaknya ketika pemilihan ketua umum kita pilih yang banyak duitnya dan punya jabatan. Tapi mereka tak ada waktu untuk total mengurus sepakbola, kan repot.

Apakah sepakbola kita sudah masuk tahap industri?

Sepakbola kita sudah bisnis. Karena basisnya sudah industri maka pengelolaannya harus benar. Kalau orientasinya sudah bisnis maka strategi marketing-nya juga harus bagus.

Bayangkan setiap pekan di sebuah stadion terkumpul 20 ribu orang. Setiap pekan itu ada 6 hingga 7 pertandingan dan dalam setiap pertandingan ditonton 10 hingga 20 ribu orang dengan tujuan yang sama. Masak sih nggak jadi duit?

Dari sisi bisnis, sepakbola kita sudah menguntungkan?

Sekarang nggak sulit lagi mencari sponsor. Tapi belum menguntungkan banget dan klub tidak rugi banget. 

Idealnya kan sponsor itu membiayai 50 persen. Selebihnya klub membiayai dari jersey, tiket dan sumber pembiayaan lainnya. Kalau misalnya untuk satu musim pertandingan butuh dana Rp20 miliar maka sponsor mendanai Rp10 miliar dan sisanya klub mencari sumber pendanaan lainnya.

Tentu klub juga gimana caranya harus memuaskan sponsor sehingga pada musim berikutnya tetap menanggung pembiayaan klub. 

Alasan Anda memilih nama Madura United?

Tujuannya untuk mengangkat harkat dan martabat Madura. Madura selama ini dikenal kan hanya sisi jeleknya saja tetapi dengan sepakbola pelan-pelan dikenal dengan prestasinya. Dan saya sudah bisa tunjukan Madura ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Kasar, pokoknya sebutan yang tidak menguntungkanlah.

Dengan klub sepakbola ini menjadi panggung yang bagus untuk mereka. Tunjukan kepada masyarakat bahwa Madura itu tidak aneh-aneh, tidak rusuh dan tidak sekasar yang mereka bayangkan.

Sikap Anda dengan comback-nya klub-klub legendaris bermain di liga musim depan?

Itu sangat bagus. PSIS, Persebaya, PSMS itu klub legendaris dan itu sangat menguntungkan juga bagi kita. Mereka ini memiliki pendukung fanatik. Kalau kita bertanding melewan mereka kita juga untung. Sponsornya juga banyak. Penontonnya juga banyak.

Misalnya kalau kita bertanding melawan Persebaya dan main di Madura maka kita akan untung. Begitu juga kalau bertanding melawan PSMS atau PSIS. Menguntungkan bagi kita.

Saya pernah membaca biografi Anda yang bertajuk manusia multidimensi, maksudnya?

Saya ini memang kalau bekerja dalam berbagai profesi tidak setengah-setengah. Itu mungkin yang menyebut saya ini multitalenta atau multimensi.

Ketika saya jadi bankir saya total hingga menjadi direktur utama. Begitu juga ketika saya di Dekopin, HKTI, PSSI dan menjadi anggota DPR saya sangat total. Dan semua profesi itu semuanya berbasis massa kuat.

Koperasi itu massanya sangat kuat, HKTI juga sama, sepakbola massanya sangat banyak dan menjadi anggota DPR apalagi.

Apa keuntungan lain menjadi manusia multidimensi?

Saya ini memiliki teman yang banyak, jaringan yang luas. Nyaris tidak memiliki musuh. Hampir semuanya teman. Ribuan teman saya.

Saya sangat diuntungkan dengan banyak teman ini. Saya menjadi sekarang pun karena teman. Saya dibantu banyak teman. Kalau orang tua sudah selesai, kita sekarang ini mengandalkan teman.

Karena itu kalau kita susah jangan lupa kepada teman. Teman itu akan selalu diingat apalagi teman yang selalu ada saat kita susah dan senang.

Teman yang pergi saat kita susah juga banyak. Dan ketika kita lagi susah kemudian teman meninggalkan kita itu biasa. Kita jangan marah. Makanya kita harus berusaha lagi akan kita tidak susah. Apalagi di dunia politik itu biasa. Cuma kita ingat saja kalau teman itu pernah meninggalkan kita. Pada saat kita berhasil teman yang meninggalkan kita akan kembali lagi. Itu biasa. Dan biasanya teman yang meninggalkan itu akan menyesal.


#wawancara
#achsanul qosasi
#bpk
#sepakbola
#madura united
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)