logo rilis
5 Fakta Penting soal Fenomena Muslim di Eropa
Kontributor
Syahrain F.
04 April 2018, 20:25 WIB
5 Fakta Penting soal Fenomena Muslim di Eropa
Muslimah berniqab di Eropa. FOTO: Getty Images/Franck Prevel 

RILIS.ID, Jakarta— Sejumlah penelitian di Barat telah memunculkan angka statistik mengenai pertumbuhan pesat populasi Muslim di Eropa. Namun, meskipun pesat, populasi Muslim masih terhitung minoritas, yakni 5 persen (sekitar 25.770.000 orang) dari total populasi Eropa.

Proyek penelitian yang dilakukan lembaga riset terkemuka Pew Research Center (PRC) memperkirakan angka pertumbuhan populasi Muslim akan terus tumbuh--ditambah dengan gelombang pengungsian yang terus berdatangan ke Eropa.

Pembahasan soal pertumbuhan Muslim ini bahkan menjadi topik utama dalam pemilihan umum di Prancis dan Jerman.

Menggunakan data PRC, berikut lima fakta mengenai populasi Muslim di Eropa.

Pertama, Prancis dan Jerman merupakan negara Eropa yang memiliki populasi Muslim terbesar. Per pertengahan 2016, ada sekitar 5,7 juta (8,8 persen dari total populasi) Muslim di Prancis dan 5 juta (6,1 persen) di Jerman.

Sementara negara Eropa dengan rata-rata pembagian populasi Muslim terbesar adalah Siprus. Total populasi Muslim di negara itu sebesar 25,4 persen (sekitar 300.000 orang), atau seperempat dari total penduduk Siprus.

Kedua, total sebaran populasi Muslim di Eropa terus mengalami peningkatan secara stabil, dan akan terus tumbuh dalam beberapa dekade ke depan.

Dari pertengahan 2010 hingga 2016, jumlah pertumbuhan populasi meningkat  cukup drastis, yakni dari 3,8 persen (19,5 juta) menjadi 4,9 persen (25,8 juta orang). Di 2050, diperkirakan pertumbuhan populasi akan meningkat dua kali lipat.

Ketiga, jumah kaum muda dan tingkat kelahiran Muslim lebih banyak dari orang Eropa. 50 persen dari total populasi Muslim merupakan kaum muda yang berumur di bawah 30 tahun. Sementara kaum muda non-Muslim Eropa hanya 32 persen.

Sementara rata-rata kelahiran perempuan Muslimah berada di angka 2.6 persen, setingkat lebih tinggi dibanding perempuan Eropa yang hanya 1,6 persen.

Keempat, antara 2010 hingga 2016, faktor terbesar yang mempengaruhi pertumbuhan populasi Muslim adalah gelombang migrasi ke Eropa. Diperkirakan sekitar 2,5 juta Muslim berdatangan ke Eropa untuk mencari suaka, atau pekerjaan dan sekolah. Sekitar 1,3 juta Muslim diberikan status pengungsi.

Faktor kedua adalah tingkat kelahiran yang tinggi. Dari periode tersebut, ada sekitar 2,9 juta bayi yang dilahirkan dari keluarga Muslim. Jumlah kelahiran melebihi angka kematian. 

Meskipun tak sebesar dua faktor sebelumnya, tren mualaf atau orang yang berpindah agama ke Islam juga berpengaruh terhadap perubahan drastis demografi di Eropa. 

Kelima, masyarakat Eropa terbelah dalam memandang Muslim dan nilai-nilai Islam. Negara-negara di Eropa bagian timur dan selatan lebih memiliki sikap dan pandangan yang negatif terhadap umat Islam beserta nilai-nilai yang dianut. 

Sementara negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda--dengan serangkaian kontroversinya soal Islamofobia--cenderung bersikap lebih humanis terhadap Muslim. 

Berdasarkan penelitian, sikap itu terbentuk disebabkan pandangan ideologi kelompok-kelompok di Eropa. Sebanyak 47 persen rakyat Jerman yang terafiliasi dan mendukung kelompok sayap kanan memiliki pandangan keliru soal Muslim. Sementara hanya 17 persen dari kelompok sayap kiri yang memiliki pandangan serupa.

Di Itali dan Yunani, jarak antara dua kelompok tersebut terbentang sekitar 30 persen.


500
komentar (0)