logo rilis
10 Film Pendek ASEAN Siap Beradu di Kompetisi If/Then
Kontributor
Ning Triasih
11 Mei 2018, 16:50 WIB
10 Film Pendek ASEAN Siap Beradu di Kompetisi If/Then
ILUSTRASI: Pixabay

RILIS.ID, Jakarta— Sebanyak 10 projek film pendek dokumenter dari negara ASEAN akan dilombakan dalam kompetisi If/Then. Kesepuluh film yang terpilih telah lebih dulu melewati proses master class.

If/Then sendiri merupakan ajang kompetisi film dokumenter pendek gagasan Tribeca Film Institute, institusi film Amerika yang didirkan aktor Hollywood Robert De Niro.

Menurut penuturan Direktur Program In-Docs Amelia Hapsari yang terlibat dalam kegiatan tersebut dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (11/5/2018), 10 film yang berhasil lolos itu akan meneruskan proses pengembangan cerita dan mengikuti loka karya tambahan di Bali pada 2-5 Agustus 2018 mendatang.

Di akhir program ini, lanjutnya, empat film dari negara ASEAN yang menang akan mendapatkan hadiah uang senilai Rp100 juta.

Selain empat pemenang, satu film yang juara juga bakal memenangkan hibah produksi dari Al Jazeera. Itu berarti, karyanya akan ditayangkan di saluran Al Jazeera.

Kelima pemenang program tersebut juga akan mendapat dukungan mentor dan distribusi dari Tribeca, serta dipromosikan ke partner distribusi Tribeca Film Institute, seperti POV, The Guardian, The New York Times, Netflix, ITVS, iTune, Vimeo dan lainnya. Serta ada pula beberapa penghargaan antara lain dari British Council berupa hadiah khusus menghadiri festifal film dokumenter terbesar di Inggris, Sheffield Doc/Fest.

10 Film ASEAN

1. Bullet-Laced Dreams (Filipina). Menceritakan anak-anak dari suku asli di Mindanao berjuang memperoleh hak pendidikan karena pemerintah melakukan militerisasi di sekolah-sekolah mereka

2. Dancing Queen (Thailand). Mengisahkan seorang bekas ladyboy terinfeksi HIV dari teman prianya yang tengah mempertaruhkan hidupnya berjuang melawan virus HIV dan TB

3. Diary of Cattle (Indonesia). Film ini menggambarkan kehidupan sehari-hari peternakan sapi yang makan dan tinggal di lokasi tempat pembuangan sampah. Terlepas dari manfaat ekonomi bagi pemilik ternak, beberapa risiko tidak dapat dihindarkan, baik risiko yang mengancam jiwa ternak, hingga kerugian investasi bagi pemiliknya.

4. Home (Indonesia). Mengisahkan perjalanan orang utan muda menuju pemulihan melalui jalan panjang dan sulit dengan berbagai dukungan di sepanjang jalan menuju rumah.

5. How Far I’ll Go (Indonesia). Dua gadis remaja yang mengalami gangguan penglihatan menantang diri mereka untuk mandiri. Andrea dan Salsabila, keduanya beranjak tujuh belas tahun, merupakan teman sejak masih anak-anak. Andrea meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Amerika ketika dia berumur lima tahun.

6. Songbirds of Aceh (Malaysia). Di salah satu tempat subur lahirnya kelompok garis keras Islam terbesar di dunia, sekelompok gadis muda menemukan cara untuk melawan terorisme dengan hanya menggunakan suara mereka dalam lagu.

7. Swallows Trapped in Twilight (Thailand). Film ini berkisah, di suatu tempat di Thailand, sebuah keluarga pengungsi Sudan hidup dalam persembunyian - menunggu pemulihan kembali dengan kamera kecil mereka.

8. The Legend of The Fish (Filipina). Apa yang harus dilakukan untuk membuat sang legenda tetap hidup?

9. The Other Half (Indonesia). Mengisahkan Basri 65 tahun yang tinggal sendiri, berpartisipasi dalam acara pertandingan yang disebut Golek Garwo, mencari pasangan hidup.

10. Touch the Color (Filipina). Film ini bercerita, ketika perang narkoba di Filipina semakin intensif, sekelompok wanita yang dipenjara mengubah neraka penjara menjadi tempat pensucian dosa di saat menunggu putusan akhir di pengadilan.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)